Quit Smaving

Kalau dihitung sudah 580 hari saya berhenti merokok. Ngapain dihitung coba? Iseng aja. Ternyata sudah lumayan juga. Ya hampir 2 tahun. Karena saya ingat pertama memutuskan untuk berhenti itu ketika h-2 minggu dari lahirnya Adam, anak saya. Eh ralat, bukan berhenti merokok, tapi berhenti mengasap karena sebenarnya saya sudah berhenti merokok per desember 2013 tapi hanya beralih ke personal vaporizer atau biasa disebut Vapor atau Vape.

Desember 2013 adalah pertama kalinya saya mencoba vape, device pertama yang saya pakai itu ego-c & Kanger Evod. Di tahun tersebut perkembangan vape baru saja mulai. Sebelum membeli tentunya saya mencoba dulu dari teman saya wicak yang sudah mulai aktif nge-vape 3 bulan sebelumnya.

Awalnya saya gak tertarik untuk berhenti merokok dan menggantinya dengan device elektronik macam vape ini. Karena menurut saya merokok itu keren, dan ngevape itu terlihat seperti nerd. Sperangkat device vape yang saya punya pada awal ini cukup murah sebenarnya, tapi menurut saya cukup mahal karena harus beli part lainnya seperti coil, clearomizer cadangan, baterai tambahan dan juga liquid tentunya. Jadi terhitung cukup mahal untuk vaper pemula ketika itu.

Pertama kali ngevape, yang saya bingungkan adalah kapan saya harus berhenti? Kalau rokok kan sebatang berhenti (saya jarang merokok 2 batang sekaligus) kalau ngevape itungan berhentinya per apa? Per habis baterai? Atau liquid 2 ml di dalam clearomizer? Ternyata sih ya disesuaikan dengan selera saja. Mungkin saja setelah 10 hisap juga sudah merasa cukup atau bahkan lebih.

Dari awal saya memiliki device tersebut kebetulan rokok yang saya punya sudah habis, jadi saya memutuskan untuk kembali merokok kalau nanti vape (liquid/coil) nya sudah habis. Karena menurut saya rugi, sudah membeli device yang cukup mahal tapi tidak dihabiskan (ogah rugi orangnya). Ternyata liquid habis setelah 1 minggu, yang membuat saya tidak merokok selama 1 minggu penuh. Ini adalah rekor terlama saya tidak merokok selain karena sakit atau dalam rangka penyembuhan setelah sakit (biasanya perokok berhenti merokok ketika sakit kan? Atau setidaknya mengurangi). Ketika liquid habis, berarti ini saatnya saya mulai beli rokok lagi, dan saat saya kembali menghisap rokok rasanya……. TIDAK ENAAAK..

Kenapa? Karena menurut saya, semua yang perokok butuhkan ada dan tergantikan bahkan lebih diberikan oleh vape. Asap? Tergantikan dengan Uap yang bisa diatur banyaknya sedikitnya. Throat Hit? Jangan tanya, bahkan kadar nikotin di vape juga bisa di set sedemikian hingga yang jelas berpengaruh pada throat hit. Cara menghisap? Karena vape mostli cara menghisapnya direct to lung, bisa di adjust juga kok, bahkan sekarang sudah ada vape pod yang benar2 mirip rokok rasanya. Apa dong? Kalau rasa sih sudah jelas jelas vape menang kemana2, bisa diulik juga rasa yg seperti apa bahkan untuk mengejar rasa tutung seperti tembakau dan kertas terbakar sih pasti mudah. Ada sih yang tidak bisa digantikan oleh vape yaitu sensasi merokok nya saja, menyalakan rokok memakai korek, dan perlahan terbakar menjadi abu, menjepit sebatang rokok di jari, dan perihal pengalaman fisik lainnya yang jelas secara bentuk memang sangat berbeda dengan vape.

Semenjak menyadari vape benar benar bisa menggantikan apa yang saya cari dan butuhkan dari rokok, semenjak saat itu saya putuskan berhenti merokok dan start menjadi vaper yang aktif. Mulai meng-upgrade device, explore gear nya, mengikuti perkembangannya, hingga menjadi hobby. Yap ini juga yang membedakan rokok dengan vape. Vape itu Hobby-able banget. Jadinya lebih seru aja dibanding sekedar merokok. Dan dulu di awal tahun 2014 vape belum se ramai sekarang jadi punya perasaan exclusive karena gak mainstream gitu deh.

Saya sempat berhenti ngevape selama kurang lebih 3 bulan di awal tahun 2015 dan tetap tidak kembali merokok. Alasan berhenti karena sudah mulai bosan dan jenuh aja sih karena sudah cukup puas mencoba beberapa jenis perangkat dan varian liquid, perkembangan yang kurang signifikan dari industri vape lokal secara khusus, dan global secara umumnya juga. Tapi saya kembali ngevape lagi di tahun 2016 kalau gak salah. Memang ada beberapa kali gelombang besar di industri vape lokal. Kalau gak salah saya kembali itu ketika gelombang ketiga datang lagi di industri vape lokal, dan ada beberapa pembaharuan yang menarik buat saya kembali ngevape.

Di awal tahun 2017 saya mulai mengurangi penggunaan vape, karena memangkas budget pengeluaran aja sih. Impact nya saya jadi kurang begitu aktif lagi ngevape, vape jarang saya bawa keluar rumah, hanya di sikon-sikon tertentu saja. Yang akhirnya vape hanya jadi kegiatan yang saya lakukan di rumah saja. Kebetulan istri sedang hamil, saya pun harus menjauh untuk sekedar nge-vape.

2 minggu sebelum Adam lahir saya mencoba berhenti ngevape deh. Karena sudah mulai membiasakan kegiatan vape itu cuma se-sekali dan hanya dirumah saja, jadinya gak begitu sulit untuk melepasnya. Dan memang sudah bosan juga. Itulah bagus nya vape menurut saya; Ada bosannya! At least itu yang saya rasa. Dan untuk kembali ke rokok konvensional terlalu jauh buat saya. Kadang menghirup udara yang terkontaminasi asap rokok saja membuat saya pusing dan bikin sakit tenggorokan sekarang.

Saya bukan aktivis anti rokok, saya menjadi rokok belasan tahun lamanya. saya juga masih suka menghisap vape kalau ada teman yang pakai sih. Saya tidak akan menghakimi para perokok sih, asal lebih toleran dan liat sikon saja kalau mau merokok, apalagi buat pengendara motor yang suka sambil merokok, please nih jari tengah buat kamu!

Ada tips buat yang mau berhenti merokok? Niat? Jelas. Tapi saya gak niat niat amat mau berhenti merokok tapi bisa bisa aja sih. Kalau dari pengalaman saya sih ya intinya ini semua tetap memerlukan proses, waktu dan mungkin pake subtitusi dulu sementara. Buat yang sedang berjuang berhenti merokok, mau coba vape dulu boleh.. Mau pake nicotine patch boleh (tapi kayaknya mahal), mau ganti pake permen dulu monggo, atau mau kurangin dulu merokoknya atau bagaimana pun caranya semoga sukses yak.

PS : Berhenti merokok/mengasap selain menjadi lebih sehat (katanya) juga membuat dompet lebih tebal yang rasanya hanya di awal-awal berhenti merokok saja (kok ada sisa uang sih? Ohh budget rokok ternyata…)